Semua yang Perlu di Ketahui Tentang Krisis Finansial Amerika 2008
Pada 2008 tepatnya pada bulan Desember, Amerika Serikat mengalami resesi hebat di karenakan runtuhnya pasar properti, dampaknya menghantam berbagai negara, menyebabkan resesi besar dan kerugian triliunan dolar. Sebenarnya kejadian ini bermula pada tahun 2000-an, dimana Ketua Dewan Guberbur The Fed Alan Greenspan, menurunkan suku bunga di angka 1% dan keserahan bank yang menerbitkan pinjaman beresiko.
Sumber Gambar: PBS
Awal Mula: Penurunan Suku Bunga
Semuanya dimulai di awal tahun 2000-an, ketika Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat, menurunkan suku bunga secara agresif untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Suku bunga yang rendah membuat pinjaman menjadi murah, termasuk kredit perumahan. Banyak orang mulai meminjam uang dari bank untuk membeli rumah karena bunga pinjaman yang rendah, bahkan orang-orang yang tidak layak mendapat pinjaman dari bank bisa membeli rumah karena Subprime Mortgage.
Keserakahan: Subprime Mortgage
Apa itu Subprime Mortgage? Subprime Mortgage adalah produk pinjaman (KPR) yang diterbitkan bank untuk orang dengan skor kredit rendah atau orang tidak layak menerima pinjaman misalnya imigran, orang yang berpendapatan rendah, bahkan orang yang tidak mempunyai pekerjaan sekalipun. Produk ini tentunya sangat beresiko karena kemungkinan gagal bayar yang tinggi.
Mengapa bank membuat produk ini? KESERAKAHAN itulah jawabannya, bank terus ingin mendapatkan keuntungan sebesar besarnya, hingga terus mencari keuntungan dengan memberikan pinjaman yang beresiko.
Mengapa bank berani? Pinjaman ini memang lebih berisiko karena ada kemungkinan besar peminjam akan gagal bayar. Namun, karena pasar properti terus naik, risiko ini tampak kecil. Selama harga rumah naik, jika peminjam gagal bayar, rumah bisa dijual dengan harga lebih tinggi.
KESERAKAHAN Masih Berlanjut: MBS dan CDO
Bank masih mencari cara bagaimana bisa memberi pinjaman KPR sehingga dapat mencari keuntungan hingga bank menerbitkan produk investasi yang bernama Mortgage Backed Securities dan Collateral Debt Obligation sehingga bank memiliki modal yang lebih banyak untuk memberi pinjaman.
Seiring waktu, pinjaman-pinjaman berisiko ini diubah menjadi produk investasi yang disebut Mortgage-Backed Securities (MBS). MBS adalah sekumpulan pinjaman perumahan yang dikemas ulang menjadi sekuritas, yang di bagi menjadi 3 tingkatan resiko kemudian dijual ke investor.
Sumber: Investopedia
Bank dan lembaga keuangan kemudian menciptakan produk yang lebih kompleks, Collateralized Debt Obligations (CDO), yang pada dasarnya adalah sekuritisasi dari berbagai jenis hutang, termasuk MBS.
Rating agencies seperti Moody’s dan Standard & Poor’s ikut berperan dalam memperparah situasi dengan memberikan rating tinggi (AAA) pada banyak CDO, meskipun mereka sebenarnya penuh dengan pinjaman berisiko.
Credit Default Swap (CDS)
Ada beberapa orang yang sadar tentang hal ini lalu mereka bertaruh dengan pasar properti Amerika dan membuat proposal ke bank untuk menerbitkan CDS.
CDS adalah kontrak asuransi yang dirancang untuk melindungi investor dari risiko gagal bayar dalam investasi seperti CDO dan MBS. Dalam teori, CDS adalah bentuk lindung nilai, tetapi dalam praktiknya, banyak bank-bank serakah langsung menjual CDS kepada investor yang bertaruh dengan pasar properti Amerika, tanpa memegang aset dasar yang mereka asuransikan. Salah satu pemain utama di pasar CDS adalah AIG (American International Group), yang pada akhirnya mengalami kerugian besar karena jumlah kewajiban CDS yang sangat besar dan tidak terukur.
2007: Pecahnya Gelembung
Dari tahun 2000 suku bunga terus dinaikan, hingga pada 2006, harga rumah mulai turun, dan pada 2007, pasar properti runtuh. Penurunan harga properti berarti banyak peminjam yang gagal bayar, gelembung pasar properti Amerika pecah. Mengakibatkan hilangnya kepercayaan terhadap MBS dan CDO.
Banyak rumah sitaan bank yang beredar tidak ada yang beli dan kurva penawaran permintaan properti sangat kacau. Nilai-nilai aset tersebut merosot drastis, dan lembaga-lembaga keuangan yang berinvestasi di sektor properti mengalami kerugian besar.
Sumber Gambar: VOI Belom lagi bank-bank serakah yang menjual CDS mulai kewalahan karena tidak bisa membayar asuransi tersebut, perusahaan-perusahaan keuangan yang terlibat seperti Lehman Brothers dan AIG tidak bisa menutupi kewajiban mereka, yang memperburuk keadaan. CDS, justru menjadi beban bagi Bank Bank yang menerbitkan asuransi tersebut.
Puncak Krisis: Kebangkrutan Lehman Brothers
Bayangkan apa yang terjadi jika Bank Mandiri atau Bank BRI bangkrut di Indonesia, itulah yang terjadi di Amerika pada 2008.
Lehman Brothers, yang didirikan pada tahun 1847, adalah bank investasi terbesar ke-4 di Amerika Serikat. Lehman Brothers banyak berinvestasi di sektor properti. Ketika harga properti mulai anjlok pada 2006 dan peminjam subprime mulai gagal bayar, Lehman Brothers banyak mengalami kerugian
Pada 15 September 2008, Lehman Brothers menyatakan kebangkrutan setelah gagal mendapatkan bailout dari pemerintah atau pembeli potensial. Dengan total aset lebih dari $600 miliar, ini menjadi kebangkrutan terbesar dalam sejarah AS. Runtuhnya Lehman Brothers memicu kepanikan besar di pasar keuangan global dan memperburuk krisis, menghancurkan kepercayaan investor dan lembaga keuangan lainnya.
Keputusan pemerintah AS, terutama Menteri Keuangan Henry Paulson, untuk tidak membailout Lehman Brothers dinilai sebagai salah satu kesalahan besar. Kejatuhan Lehman menciptakan satu istilah yang terkenal yaitu too big to fail, artinya bank-bank atau perusahaan keuangan berskala besar tidak boleh/dilarang bangkrut karena efeknya yang mengerikan.
Bear Stearns
Sebelum kejatuhan Lehman Brothers, Bear Stearns, salah satu bank investasi tertua dan terbesar di AS, juga menerbitkan produk MBS dan CDO yang banyak. Pada Maret 2008, Bear Stearns mengalami krisis yang parah ketika investor kehilangan kepercayaan dan mulai menarik dana mereka secara massal. Bank ini tidak bisa lagi mendapatkan pembiayaan yang sangat diperlukan untuk operasional sehari-hari.
The Fed, dalam upaya untuk menghindari runtuhnya Bear Stearns yang bisa mengguncang pasar keuangan, mengatur penjualan darurat bank ini ke JPMorgan Chase dengan harga hanya $2 per saham, jauh di bawah nilai pasar Bear Stearns sebelumnya. Meskipun angka ini akhirnya dinaikkan menjadi $10 per saham, transaksi ini melibatkan jaminan dari Federal Reserve senilai $30 miliar untuk menutupi potensi kerugian dari aset-aset berisiko Bear Stearns.
Pemerintah AS, di bawah pimpinan Menteri Keuangan Henry Paulson, merasa bahwa menyelamatkan Bear Stearns diperlukan untuk mencegah kehancuran lebih lanjut. Namun, langkah ini juga menimbulkan kritik karena dinilai sebagai penyelamatan bank-bank besar tanpa memperhatikan dampak pada masyarakat luas.
AIG
AIG merupakan bank yang banyak mengeluarkan instrumen CDS, sangking banyak banyaknya AIG kesulitan bahkan gagal untuk memenuhi kewajibannya. AIG tidak memiliki cukup cadangan modal untuk memenuhi kewajiban ini, perusahaan tersebut berada di ambang kebangkrutan. Kegagalan AIG bisa menyebabkan kehancuran lebih besar di pasar keuangan global, karena banyak bank besar bergantung pada CDS dari AIG.
Pada bulan September 2008, pemerintah AS membaillout senilai $182 miliar untuk menyelamatkan AIG. Federal Reserve dan Departemen Keuangan AS memandang AIG sebagai lembaga yang terlalu besar untuk dibiarkan gagal, karena kegagalannya akan memicu krisis kepercayaan yang lebih besar di seluruh pasar keuangan.
TARP dan Peran Henry Paulson
Dalam situasi yang semakin kacau, Henry Paulson, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Keuangan AS, Paulson adalah mantan CEO Goldman Sachs dan memiliki pengalaman panjang di dunia keuangan. Ia menyusun paket penyelamatan ekonomi yang dikenal sebagai Troubled Asset Relief Program (TARP),yang disetujui oleh Kongres pada Oktober 2008.
TARP mengalokasikan $700 miliar untuk membeli aset-aset bermasalah dari bank, untuk menstabilkan pasar keuangan dan memulihkan kembali kepercyaan masyarakat. Uang dari TARP juga digunakan untuk menyuntikkan modal langsung ke bank-bank besar, termasuk Citigroup dan Bank of America, untuk mencegah kebangkrutan lebih lanjut.
Mungkin kalian bertanya-tanya, Mengapa Pemerintah Tidak Membailout Lehman Brothers? Menteri Keuangan Hank Paulson dan Federal Reserve, khawatir bahwa menyelamatkan Lehman Brothers bisa menciptakan moral hazard. Pemerintah takut jika membailout Lehman, maka bank-bank atau lembaga keungan yang lain akan terus mengambil resiko yang besar dalam bisnisnya dan jika terjadi sesuatu mereka yakin mereka akan di selamatkan oleh pemerintah.
Lalu kenapa pemerintah membailout AIG? Hal ini di karenakan kegagalan AIG bisa menyebabkan kehancuran lebih besar di pasar keuangan global, karena banyak bank besar bergantung pada CDS dari AIG dengan kata lain, banyak Individu maupun perusahaan yang bergantung pada asuransi AIG.
Dampak
Krisis finansial 2008 meninggalkan dampak yang mendalam terhadap ekonomi global. Resesi yang diakibatkannya adalah yang paling parah sejak Depresi Besar, dengan jutaan orang kehilangan pekerjaan dan rumah mereka. Meski TARP dan langkah-langkah yang lain membantu menstabilkan sistem keuangan, ketidakpercayaan terhadap lembaga keuangan dan pemerintah tetap tinggi di kalangan masyarakat.
Kesalahan Pemerintah
Menurut saya pribadi kejadian ini tidak sepenuhnya kesalahan pasar dan institusi/lembaga keuangan, ada juga kesalahan pemerintah mulai dari kebijakan The Fed pada 2001 yang membuat orang terlalu mudah untuk mendapatkan rumah. Akibatnya, permintaan untuk rumah melonjak, harga properti meningkat pesat, dan spekulasi di pasar perumahan mencapai tingkat yang berlebihan. Penurunan suku bunga yang berkepanjangan ini pada akhirnya membentuk gelembung properti yang, ketika meledak, memicu krisis yang lebih besar.
Pemerintah juga gagal dalam membuat regulasi dan mengawasi pasar Subprime Mortgage. Pemerintah gagal memantau secara ketat pertumbuhan pasar Subprime Mortgage yang semakin berisiko. Bank dan lembaga keuangan mulai memberikan pinjaman kepada peminjam dengan kredit yang buruk, terkadang tanpa jaminan bahwa peminjam dapat memenuhi kewajiban mereka hingga menyebabkan banyaknya gagal bayar.
Keputusan untuk tidak menyelamatkan Lehman Brothers pada September 2008 menurut saya merupakan kesalahan terbesar dalam krisis ini. Pemerintah membiarkan Lehman bangkrut dengan harapan menghindari moral hazard, yakni anggapan bahwa menyelamatkan semua lembaga keuangan besar akan membuat mereka untuk terus mengambil risiso. Namun, kebangkrutan Lehman mengakibatkan kepanikan besar di pasar global, yang menyebabkan runtuhnya kepercayaan pada lembaga keuangan, dan jatuhnya harga Properti. Dampak yang terjadi ini lebih parah dari yang dipikirkan oleh pemerintah, dan memicu krisis keuangan yang jauh lebih parah. Kejatuhan Lehman menjadi puncak krisis yang berdampak secara global.
Penutup
Pada akhirnya, krisis keuangan 2008 bukan hanya krisis ekonomi, tetapi juga krisis kepercayaan—kepercayaan terhadap pasar, terhadap institusi, dan terhadap pemerintah. Kejadian ini harus dijadikan pelajaran agar pemerintah tidak asal membuat regulasi dan institusi keuangan juga bijak dalam mengelola bisnisnya agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.